Kamis, 28 Maret 2013

Pencarian Bakat





Awal mula ajang pencarian bakat di Indonesia itu ketika AFI atau Akademi Fantasi Indosiar itu booming waktu saya SD.

Beberapa tahun setelahnya, muncullah beberapa ajang pencarian bakat macam Indonesian Idol, The Master, Master Chef, API, KDI, IMB, dan lain sebagainya...yang terbaru X Factor dan The Voice.
Acara seperti ini sebenarnya cukup bagus, tapi ini hanya membuat para kontestannya menjadi terkenal sementara.
The Master hanya Joe Sandy dan Limbad saja yang masih dikenal banyak orang..

API hanya Sule dan Rina Nose saja yang masayarakat kenal...

Masterchef yang terkenal malah jurinya, si chef Juna....

KDI dan IMB mungkin hanya satu dua orang yang masyarkat ingat...

AFI sudah tidak kelihatan lagi alumni-alumninya...

Indonesian Idol masih mending...

Dan entah siapa lagi korban dari X Factor dan The Voice ini.

Ini bukan hanya di Indonesia, diluar neger juga seperti itu..
Sebut saja Clay Aiken dan Kris Allen yang tenggelam namanya meski telah menjuarai American Idol... dan masih banyak lagi korban-korban lain dari ajang pencarian bakat ini.
Namun lucunya, animo masyarakat akan hal seperti ini sangat tinggi. Ini dikarenakan keinginan masyarakat yang sangat ingin terkenal, tapi tidak mau merasakan prosesnya. Akhirnya, dipilihlah cara yang bagaikan mi instan ini.

Memang dalam ajang pencarian bakat itu juga ada proses yang harus dijalani, tapi tidak sekeras dan sesakit proses diluar ajang pencarian bakat...karena pada akhirnya , para kontestan ajang seperti ini malah menjadi alat dongkrak rating bagi stasiun TV..
kasian juga mereka, kreatifitasnya menjadi terkurung.

Jadi, buat teman-teman yang ingin masuk menjadi konsestan ajang pencarian bakat...berpikirlah dulu. Jangan sampai kalian menjadi alat dongkrak rating TV dan mengurung kreatifitas teman-teman.
Kecuali memang itu yang anda inginkan : )



Semoga artikel ini bermanfaat..salam dangdut..!!!
Ian Ardianzah

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

silahkan berkomentar disini..!!!!