Rabu, 01 November 2017

Video Game sebagai Medium Bercerita yang Baru



Baru saja saya menyaksikan dua trailer game yang cukup mencuri perhatian banyak penggemar game di Paris Game Week 2017 beberapa hari yang lalu. The Last of Us Part 2 dan Detroit: Become Human adalah dua game tersebut.

The Last of Us Part 2 adalah game bergenre survival horror buatan developer Naughty Dog dan merupakan lanjutan dari game pertamanya yang rilis secara eksklusif untuk PS3 dan PS4 pada pertengahan 2013 yang lalu. Belum banyak bocoran gameplay dan cerita, namun dari rumor yang beredar di dunia maya, game-nya akan menjadi sekuel sekaligus prekuel dari game pertamanya. Tanggal rilis game-nya pun belum diungkapkan karena masih dalam tahap pengembangan.




Sedangkan Detroit: Become Human adalah sebuah game bergenre interactive drama buatan developer Quantic Dream yang rencananya akan dirilis pada tahun 2018 secara eksklusif untuk PS4. Berdasarkan empat trailer yang telah beredar, game-nya akan bertempat di kota Detroit masa depan dimana android atau robot manusia buatan telah ada dan dibuat untuk mempermudah pekerjaan manusia. Dalam game-nya nanti kita akan memainkan 3 karakter berbeda yang masing-masing memiliki jalan cerita sendiri. Gameplay-nya sendiri nanti berupa pilihan-pilihan yang akan berpengaruh pada jalan cerita masing-masing karakter. Belum pasti apakah jalan cerita setiap karakter akan saling berkaitan satu sama lain seperti di game Heavy Rain, namun jika anda adalah penggemar game-nya, Detroit: Become Human adalah game yang layak untuk anda tunggu.




Kedua game ini cukup menarik. Jika dilihat dari trailer yang ditayangkan di Paris Game Week kemarin, selain keduanya menampilkan grafis yang luar biasa, game tadi sepertinya akan memberikan suguhan cerita yang sangat menarik dan kompleks. Dengan hadirnya game seperti di atas tadi semakin memperkuat anggapan orang-orang bahwa  video game merupakan sebuah medium baru dalam menyampaikan cerita.

Dulu medium bercerita hanya menggunakan  menggunakan kertas dan kata-kata. Cerpen dan Novel adalah bentuk awal bagi orang-orang yang ingin menuangkan ceritanya, dengan kata-kata yang disusun sedemikian rupa agar memancing imajinasi dan emosi pembacanya. Lalu kemudian muncul medium baru seperti komik, teater, dan film yang tidak hanya menggunakan kata-kata yang indah saja, namun juga memvisualisasikan tiap adegan yang telah ditulis. Medium untuk bercerita kembali muncul ketika televisi mulai menayangkan serial tv. Tidak hanya memviualisasikan sebuah cerita, serial tv juga kemudian membawa cara bercerita menjadi lebih kompleks dengan membagi cerita dalam beberapa episode

Semua itu tidak cukup. Perubahan medium dari buku novel hingga ke dalam bentuk layar televisi hanya merubah penikmatnya berganti nama dari pembaca ke penonton yang cuma duduk diam sambil disuguhkan sebuah cerita. Penikmat ini ingin lebih. Mereka lebih ingin terlibat. Dan sepertinya hal inilah yang ditangkap para developer dan kreator game sehingga menghasilkan game-game seperti Final Fantasy, GTA, Uncharted, dan tentunya dua game yang tadi kita bahas di atas.
Dalam game, para penikmat ini tidak hanya duduk manis sambil duduk manis sambil disuguhkan cerita yang diberikan, tapi juga menjadi penentu bagi karakter game-nya ataupun jalan cerita bagi game itu sendiri. Para penikmatnya bukan hanya berganti nama, namun juga bertambah peran.
Hal ini kemudian memunculkan pertanyaan baru:

“Apakah munculnya video game sebagai medium bercerita yang baru akan mematikan medium yang lain?”

Paul Dini, penulis komik Batman dan Batman: The Animated Series, adalah penulis dari video game Batman: Arkham. Game-nya sangat sukses dipasaran, dipuji kritikus dan mendapatkan penghargaan sebagai game terbaik. Sam Houser dan Hideo Kojima merupakan penggemar film, namun dibanding menjadi filmmaker mereka malah memilih menjadi pembuat game. Sekarang kita semua tahu seperti apa Grand Theft Auto dan Metal Gear Solid yang mereka berdua buat

Dengan mulai banyaknya kreator-kreator video game yang tidak kalah dari kreator-kreator medium yang lain, ditambah dengan trend sekarang dimana banyak film, komik, dan novel yang diadaptasi dari video game, rasa-rasanya jawaban “ya” untuk pertanyaan di atas bukanlah jawaban yang tidak mungkin. The Last of Us Part 2 dan Detroit: Become Human sepertinya akan membuat pertanyaan tadi semakin dekat menjadi kenyataan.

Senin, 28 Agustus 2017

Death Note Review




Ada dua film hollywood adaptasi anime/manga yang sangat saya tunggu tahun ini. Dua film itu adalah Ghost in the Shell dan Death Note. Dua judul ini cukup menjanjikan untuk dibuat adaptasi hollywood-nya karena memiliki genre dan premis cerita yang sangat hollywood banget. Ghost in the Shell dengan sci-fi thriller dan Death Note dengan genre horror crime thriller-nya. Saya melewatkan Ghost in the Shell dua bulan lalu, jadi saya tak akan mencoba bercerita tentang filmnya sampai saya menontonnya. Sedangkan Death Note, baru sekitar dua hari yang lalu saya menontonnya dan hasilnya..

Amburadul.. -_-

Sebelum saya membahas film adaptasi hollywood-nya yang amburadul itu, mari saya jelaskan dulu apa itu Death Note.

Death Note adalah serial manga/anime yang bercerita tentang sebuah buku mematikan. Apabila dituliskan nama seseorang di dalam buku tersebut,  orang yang namanya ditulis akan mati. Buku Death Note itu merupakan milik dewa kematian (Shinigami) bernama Ryuk yang dia jatuhkan ke dunia manusia yang kemudian ditemukan oleh Light Yagami, seorang siswa SMA terpandai seantero Jepang. Setelah melakukan beberapa percobaan dan pembuktian, Light Yagami menggunakan buku itu untuk membersihkan dunia ini dari orang jahat dengan cara membunuh para pelaku kriminal.
Ada 2 plot besar yang ada dalam serial Death Note ini. 

Yang pertama ialah tentang ambisi Light Yagami untuk menjadi dewa di dunia baru yang ia ciptakan dengan membunuh para pelaku kriminal. Dia menciptakan sebuah persona bernama Kira dan secara berangsur-angsur memiliki pengikut. Dalam mencapai ambisinya menjadi dewa, dia juga tak segan-segan memanipulasi orang lain atau bahkan sampai membunuhnya menggunakan Death Note.

Plot yang kedua ialah tentang aksi kucing-kucingan antara L dengan Kira. L adalah tokoh utama kedua di serial ini dan merupakan seorang detektif swasta yang punya reputasi tinggi dalam memecahkan kasus besar. L berusaha memecahkan kasus kematian misterius para pelaku kriminal ini dan sampai pada kesimpulan bahwa Light Yagami adalah Kira. Karena tak memiliki bukti, L pun kemudian melakukan penyelidikan pada Light Yagami. Setelah tahu dia selidiki, Light pun mencoba mencari tahu nama sebenarnya dari L untuk membunuhnya dengan Death Note. Plot ini menjadi menarik karena menyakasikan pertarungan L vs. Kira ini layakanya melihat 2 orang pemain catur yang saling mencari celah satu sama lain. Selain itu, kepribadian L dan Light Yagami yang kontras selalu menjadi bumbu cerita yang menarik untuk diikuti, terutama pendapat mereka berdua tentang apa itu keadilan yang terkadang membuat kita sebagai pembaca/penonton juga bertanya-tanya seperti apa sebenarnya keadilan itu.

Kira-kira seperti itu garis besar cerita dari Death Note. Masih agak kurang lengkap sebetulnya karena banyak hal menarik yang sukar saya jelaskan. Baca manga atau tonton saja anime-nya sendiri untuk lebih jelasnya.

Sebelum di adapatasi oleh hollywood, sebenarnya sudah pernah dibuat adaptasi Death Note ke film dalam versi Jepang. Bahkan sampai 3 seri kalau tidak salah. Tapi baik Jepang ataupun Hollywood, belum ada satupun yang sanggup membuat film Death Note yang fenomenal seperti apa yang dicapai oleh manga/anime-nya. Seperti halnya film Jepang lain yang diadaptasi dari manga/anime, akting para aktornya kaku seperti papan tripleks. Entah apa masalahnya film-film Jepang ini dalam mengadaptasi anime/manga. Ceritanya pun terlalu dipercepat dan dipadatkan. Namun ini bisa dimaklumi karena mengadaptasikan 12 volume manga dan 37 episode anime itu ke dalam film yang cuma berdurasi kurang lebih dua jam adalah hal yang cukup sulit.

Baiklah, mari kita kembali pada persoalan adaptasi Death Note ke film yang amburadul itu.
Adapatasi hollywood dari Death Note ini cukup menjanjikan sebetulnya. Karena seperti yang saya tulis di awal tadi, genre Death Note ini sangat hollywood banget, tidak seperti manga/anime kebanyakan. Yang mengadaptasikannya pun adalah Netflix yang sudah punya cukup reputasi yang bagus untuk jenis cerita macam Death Note ini, contohnya seperti House of Cards (kapan-kapan saya akan review tv series favorit saya ini :D).

Saya sebenarnya tidak mempermasalahkan perubahan karakter yang jauh dari serial asli Death Note, justru itu membuat filmnya jadi tambah menarik karena membuat kita penasaran. Masalahnya, tak satu pun dari aktor-aktor ini yang memerankan karakter itu dengan baik. Hanya karakter Ryuk (yang diisi suaranya oleh aktor kawakan Willem Dafoe) yang berhasil diperankan dengan baik. Ryuk di film ini jadi lebih manipulatif dan Willem Dafoe sebagai pengisi suaranya sangat menghayati. Selebihnya, tak ada yang benar-benar membuat kita simpati dengan dengan karakternya. Entah skrip filmnya belum matang atau memang sutaradaranya yang kurang bisa menyampaikan isi skrip secara utuh sehingga filmmnya jadi tidak sempurna.

Satu hal lagi yang membuat saya kecewa adalah dihilangkannya dua plot besar yang saya tulis di atas tadi sehingga membuat filmnya menjadi sebuah film horror-gore tak berotak yang bahkan tidak lebih bagus dari 5 seri Final Destination.

Yah, intinya saya sebagai orang yang sangat suka dengan Death Note sangat kecewa dengan film adaptasinya yang dibuat oleh Netflix. Lalu kemudian mungkin ada yang berpikir:
 “jangan dibanding-bandingkan. Anime/Manga berbeda dengan film Live-Action”
Bagaimana ya? Salahnya Netflix juga sebenarnya kenapa nekat membuat adaptasi dari manga/anime. Yang namanya adaptasi, pasti dibandingkan sama versi aslinya. Lagipula kalau Netflix mau buat cerita yang benar-benar baru, kenapa tidak membuat yang baru sekalian. Tidak usah pinjam nama dari film atau serial yang sudah ada.

Ya, sudahlah. Intinya saya kecewa.

Minggu, 26 Juni 2016

Jurnal - 26 Juni 2016 : Media Online kita




Sebagai seorang staf keuangan di salah satu media cetak terbesar di Sulawesi Selatan, saya cukup paham bahwa dua hingga tiga tahun terakhir ini adalah masa-masa suram bagi sebuah perusahaan media cetak. Dari sekian banyak faktor yang menyebabkan masa suram ini, yang cukup menakutkan bagi sebuah perusahaan media cetak adalah mudahnya akses berita melalui internet secara cuma-cuma sekarang ini. Dengan jumlah langganan yang diperoleh semakin menurun tiap harinya kemudian diperparah dengan biaya operasional yang semakin tinggi untuk mencetak sebuah koran atau majalah, menjadi hal yang wajar kemudian jika kita mendengar kabar bahwa ada media cetak beralih bentuk ke media online atau malah berhenti beroperasi sama sekali. Hal ini memberikan pertanyaan besar yang selalu menggantung di kepala saya:

“apakah benar sudah saaatnya sebuah media cetak tergantikan oleh media online?”

Jawabannya bisa ya, bisa juga tidak. Semuanya terantung seperti apa model media online itu sendiri. Untuk sebagian besar media online yang ada di tanah air, saya akan menjawab tidak untuk pertanyaan ini.

Sebagai seorang yang dibesarkan dengan budaya membaca sejak kecil, saya cenderung tidak tertarik dengan cara beberapa media online menyajikan berita di laman daring mereka. Artikel yang terbilang pendek dengan dua hingga tiga paragraf saja itu memang terkesan mudah untuk dipahami, namun pada dasarnya minim akan informasi. Informasi  yang terlalu cepat dan terlalu banyak ini juga membuat pembaca jadi tidak fokus pada satu berita karena ditumpuk-tumpuk dalam satu waktu.

Sebagai contoh, berita pejabat A ditangkap karena kasus korupsi muncul di kanal berita B. Follow up dari berita kasus korupsi pejabat A itu muncul beberapa menit kemudian di kanal yang sama. Lalu tiba-tiba seorang pembalap MotoGP mengalami kecelakaan parah. Kanal berita tadi pun kemudian beralih fokus ke perstiwa kecelakaan tadi dan meninggalkan kasus pejabat A dengan informasi yang tidak lengkap. Informasi yang sepotong-sepotong seperti ini rentan sekali untuk dijadikan sebagai sumber kericuhan, terutama di sosial media. Belum lagi jika kanal berita online itu kemudian dimiliki oleh kelompok tertentu. Kesimpangsiuran berita akan semakin tidak jelas.

Maka dari itu, pamahaman yang mengatakan bahwa media online akan segera menggantikan media cetak (dalam hal ini media cetak yang ada di Indonesia) adalah pemahaman yang salah menurut saya. Selagi masih menggunakan metode yang mereka pakai sekarang ini, media online di tanah air masih belum bisa untuk menggantikan posisi media cetak. Terutama untuk penikmat artikel berita fitur, investigasi dan opini seperti saya.

Minggu, 19 Juni 2016

Jurnal - 19 Juni 2016 : EURO 2016 Selama Sepekan


Sejauh ini, janji Michel Platini untuk menyajikan Euro yang menarik dan sengit terbukti benar adanya. Keputusan untuk menambah jumlah grup membuat Euro tahun ini sangat sengit dan menarik, terutama bagi penonton netral seperti saya. Hal ini terbukti hingga laga kedua penyisihan grup, beberapa tim baru bisa memastikan kemenangannya diatas menit ke-60, bahkan ada beberapa laga yang baru diketahui pemenangnya pada masa injury time. Sepertinya ini akan semakin menarik di babak selanjutnya karena beberapa tim kuat sudah akan bertemu di fase knock out babak 16 besar nanti. Terlepas dari itu semua, saya ingin membuat daftar tim terbaik dan terburuk versi saya selama dua laga penyisihan grup di Euro 2016. Tim terbaik dan terburuk dalam daftar ini merupakan hasil pengamatan saya selama menonton beberapa pertandingan yang sudah berlangsung selama sepekan ini. Daftar ini saya bagi kedalam tiga kategori.

Yang pertama adalah kategori Superstar. Tim-tim yang ada di kategori ini adalah tim yang paling di favoritkan menjadi juara di Euro 2016. Di kategori ini ada Jerman, Spanyol, Italia, Belgia, Portugal, Perancis, dan tentu saja Inggris. Sejauh ini yang terbaik menurut saya dalam kategori ini adalah tim Spanyol. Berada satu grup dengan tim-tim kuda hitam, Spanyol masih bisa tampil perkasa dan menunjukkan jati dirinya sebagai sang juara bertahan. Meskipun sang pelatih sempat merendah sebelum turnamen bergulir, kombinasi pemain lama dan beberapa wajah baru ditambah racikan tangan dingin Vicente del Bosque membuat Spanyol masih tetap diperhitungkan sebagai calon juara di Euro 2016. Sempat kesulitan dan menang dramatis saat menghadapi Republik Ceko, mereka akhirnya memastikan tiket lolos dari fase grup dengan menang meyakinkan dari Turki pada laga kedua pekan ini.

Tim terburuk versi saya di kategori Superstar ini ialah Portugal. Sebelumnya saya menominasikan Inggris untuk memenangkan penghargaan tim terburuk ini, namun kemediokeran tim Portugal memang tak bisa dibendung lagi. Masalah Portugal memang masih sama seperti sebelum-sebelumnya: ketegantungan pada sosok Christiano Ronaldo. Saya tak akan bicara soal teknik dan strategi karena saya tahu ilmu saya masih cetek soal sepakbola, tapi kelihatan sangat jelas kalau Portugal memang tidak bisa melakukan apa-apa lagi kalau sang kapten sekaligus mega bintang mereka dimatikan pergerakannya. Hasil imbang di dua laga penyisihan grup yang hanya diisi oleh tim seperti Austria, Hungaria dan Islandia menunjukkan bahwa sudah saatnya Portugal turun kasta dari tim “calon juara” menjadi tim “minimal bisa lolos dari grup”.

Beralih ke kategori selanjutya yaitu tim Kuda Hitam. Tim Kuda Hitam ini diisi oleh tim-tim yang jarang diunggulkan namun berpotensi mempermalukan tim-tim raksasa atau bahkan jadi juara jika mereka beruntung. Tim yang ada di kategori ini terdiri dari Swiss, Republik Ceko, Kroasia, Turki, Polandia, Swedia, dan Rusia. Tim terbaik di kategori ini agak susah untuk ditentukan, namun dari dua laga penyisihan grup, Kroasia adalah yang terbaik. Kematangan dan pengalaman para pemain Kroasia yang menjadi faktor pembeda mereka jika dibandingan dengan tim kuda hitam yang lain. Saya tidak akan terkejut jika tiba-tiba mereka membuat gebrakan lalu sampai ke babak Final di Euro 2016.


Tim kuda hitam terburuk versi saya tahun ini jatuh pada tim Turki. Setelah gagal lolos ke Euro 2012 dan World Cup 2014 lalu, mereka akhirnya berhasil melakukan come back mereka di Euro tahun ini. Turki tahun ini memang bukanlah tim Turki yang dulu sempat membuat kita terkejut dengan penampilan mereka yang luar biasa di Euro maupun World Cup. Turki saat ini banyak dihuni oleh pemain-pemain muda yang sedang berkembang. Sialnya adalah mereka berada satu grup dengan juara bertahan Spanyol serta dua  tim kuda hitam paling berbahaya yaitu Republik Ceko dan Kroasia. Turki dengan pemain mudanya yang baru berkembang terpaksa harus rela jadi lumbung gol bagi tiga tim yang sudah berpengalaman tadi. Terlepas dari buruknya permainan Turki, tim ini sepertinya akan semakin berbahaya pada kompetisi-kompetisi selanjutnya.

Beralih ke kategori selanjutnya yaitu Rising Star. Kategori ini saya isi dengan tim-tim debutan ataupun tim yang sama sekali tidak diunggulkan namun dianggap berpotensi untuk memberikan kejutan di gelaran Euro kali ini. Dalam kategori ini saya memasukkan Albania, Rumania, Slovakia, Wales, Irlandia, Irlandia Utara, Ukraina, Austria, Hungaria, dan Islandia.

Tim terbaik versi saya jatuh pada 2 tim yaitu Wales dan Islandia. Saya tak bisa menentukan mana yang terbaik diantara kedua tim ini karena dua-duanya memiliki potensi yang besar untuk memberikan kejutan. Secara personal pun saya sangat tertarik untuk mengikuti perkembangan kedua tim ini. Wales untuk kali pertama lolos ke kompetisi  4 tahunan ini. Banyak yang bilang kalau ini semua berkat adanya Gareth Bale dalam tim ini. Saya tentunya tidak setuju dengan anggapan seperti itu. Kalau memang satu orang dengan kemampuan luar biasa bisa meloloskan Wales ke kompetisi sebesar Euro, harusnya Ryan Giggs bisa melakukannya di tahun-tahun sebelumnya bukan? Nyatanya tidak sperti itu. Selain Gareth Bale yang memang superior, masih ada beberapa nama lain yang mengisi tiap lini permainan Wales dengan baik. Dibagian tengah ada Aaron Ramsey dan Joe Allen lalu dibagian pertahanan ada Ashley Williams dan Ben Davies. Islandia juga merupakan tim debutan dan sangat berpotensi untuk memberikan kejutan. Memang tidak ada pemian yang betul-betul menonjol dalam tim ini namun permainan kolektif para punggwa Islandia menunjukkan semangat yang luar biasa. Kalaupun kedua tim ini tidak bisa menembus 2 besar di grup mereka masing-masing, setidaknya tiket peringkat 3 terbaik sangat besar peluangnya untuk mereka dapatkan.

Untuk tim terburuk, Austria adalah pilihan saya. Memang masih banyak tim gurem yang nasibnya lebih sial daripada Austria, namun jika memiliki pemain seperti David Alaba dan Marko Arnautovic dalam tim, harusnya Austria tidak seterpuruk ini di fase grup. 

 
Memang penyishan grup masih menyisakan satu pertandingan lagi, namun nampaknya kecil kemungkinan bagi Austria bisa lolos dengan mudah dari fase grup bahkan dari peringkat 3 terbaik.

Minggu, 17 April 2016

Jurnal - 11 Januari 2016



Akhirnya pesanan DVD Majelis Tidak Alim saya tiba hari ini. Belum saya nonton, tapi saya cukup yakin isinya akan kocak parah. Dari selebaran ala buletin shalat jumatnya saja sudah ketahuan niat melawaknya.



Hari ini saya juga sudah selesai merampungkan rangkuman 11 film dari 20 film favorit saya tahun 2015 lalu, masih ada 9 film tersisa untuk dirangkum.

Selama beberapa hari ini saya juga sudah mulai untuk menulis jurnal. Saya merasakan beberapa perubahan signifikan dari cara saya merangkai kata menjadi kalimat dalam beberapa hari ini. Semoga saya bisa terus seperti ini, meskipun saya juga kadang kesal sendiri dengan keyboard layar yang ada di smartphone yang kadang sok tahu dan membuat typo. Saya jadi rindu dengan handphone Blackberry saya yang lama. Menulis Jurnal seperti ini sebenarnya sudah saya mulai ketika masih menggunakan Blackberry. Sayang, Blackberry itu pun rusak tanpa dan notes saya pun tak terselamatkan. Padahal saya merasa cukup produktif dalam menulis dengan menggunakan keyboard QWERTY yang ada di Bleckberry.

Mungkin sudah saatnya saya menabung lebih untuk membeli Blackberry PRIV.

Jurnal - 9 Januari 2016



Hari ini saya shalat di mushalla salah satu mall di kota Makassar yaitu Mall Ratu Indah atau yang biasa disingkat MaRI. Dalam sebulan biasanya saya menyempatkan ke mall ini sebanyak dua kali. Ada empat hal yang membuat saya betah untuk selalu ke mall ini meskipun jaraknya terbilang cukup jauh dari kantor ataupun rumah saya yang ada di daerah tamalanrea.



Hal yang pertama ialah toko buku Gramedia di mall ini cukup lengkap jika dibandingkan dengan toko buku lain yang ada Makassar. Sebenarnya saya juga cukup sering ke toko buku Graha Media yang ada MTos jalan Perintis Kemerdekaan, namun itu juga karena faktor dekatnya rumah dan harganya yang lebih miring jika dibandingkan dengan toko buku Gramedia. Kalau saya mau cari buku terbitan terbaru saya biasanya ke Gramedia MaRI ini.

Hal yang kedua, karena jaraknya yang cukup jauh dari rumah dan kantor memungkinkan saya untuk jarang bertemu dengan orang yang saya kenal. Di MaRI, hanya sekitar 10% saja kira-kira kesempatan saya akan bertemu dengan orang yang saya kenal dengan baik. Mungkin anda akan menganggap aneh, tapi saya memang salah satu orang yang cukup menikmati kesendirian. Apalagi di akhir pekan seperti ini. Mungkin ini juga yang membuat saya betah untuk cukup lama jomblo.

Faktor ketiga yang membuat saya betah adalah, seperti yang saya tulis di paragraf pembuka, yaitu karena mushalla adalah salah satu mushalla terbaik yang pernah saya lihat, terutama untuk ukuran mushalla mall. Tidak seperti beberapa mall yang ada di Makassar yangkadang tidak terawat dengan baik, mushalla di MaRI ini sangat bersih dan rapi. Saya terkadang sangsi kalau mau menyebutnya mushalla karena tempatnya memang lebih mirip mesjid daripada mushalla.

Dan yang keempat adalah bioskop. Saya biasanya kalau ke mall itu tujuannya hanya ada dua: mau belanja buku atau mau nonton di bioskop. Nah, bioskop paling nyaman di Makassar menurut saya adalah XXI yang ada di MaRI ini. Di MTos pun sebenarnya ada bioskop dan tentunya saya juga sering kesana karena pasti lebih murah dan lebih dekat. Tapi sekali lagi, jika mencari kenyamanan dalam menonton maka pilihan saya akan jatuh ke bioskop XXI yang ada di MaRI.