Sabtu, 21 November 2015

Pinjam Pacar



Terik matahari membuat Tio bermalas-malasan di dalam kamar kosannya siang itu. Dia tiduran di kasur tipis yang digelar di lantai sambil ditemani dengan kipas angin murahan yang diameternya hanya sebesar telapak tangan.
Pria berusia 25 tahun ini sudah hampir setahun menganggur. Tidak seperti teman seangkatannya yang menyebar CV mereka kemana-mana, Tio cenderung malas dan baru memberikan lamaran pekerjaannya pada satu perusahaan saja. Sampai sekarang lamaran yang dia kirimkan itu tak berbuah panggilan psikotes ataupun wawancara.
Jika malas adalah kata yang bisa menggambarkan Tio, maka Boros adalah kata kedua yang sangat menggambarkan dirinya. Tiap bulan Tio selalu saja punya Action Figure yang baru. Perlu ditekankan, Action Figure ini bukanlah mainan yang sering kita lihat di toko-toko mainan, tapi Action Figure yang dijual online dimana barang tersebut dijual dengan memakai label harga dollar.
Meskipun terhitung orang yang boros, dia ternyata masih bisa hidup dibelantara kota yang mana biaya hidupnya cukup mencekik leher. Hal ini dikarenakan Tio memiliki 3 sumber dana tak terbatas. Yang pertama, tentunya dari kiriman orang tua tiap bulan. Kiriman orang tua ini adalah modal awal dari Tio dalam membeli Action Figure yang berlabel harga dollar itu. Meskipun Ibunya selalu menanyakan kapan dia diterima kerja, Tio tetap punya alasan yang tepat untuk mengelak dan dana tetap terkucur deras ke rekening pribadinya.
Sumber dana yang kedua adalah penjualan buku-buku kuliah. Tio memiliki jiwa bisnis yang cukup mumpuni. Dia jeli melihat peluang bisnis dari tumpukan-tumpukan buku bekas dalam kamarnya. Dia menjual buku-buku yang dia pakai kuliah itu ke junior-juniornya di kampus dengan harga yang bersaing dengan di toko buku, padahal yang dia jual cuma buku fotokopian. Meskipun begitu, bukunya tetap laku keras. Tentunya dengan taktik intimidasi senior. Uang yang dia dapatkan dari menjual buku bekas itu biasanya dia pakai untuk membayar uang kos yang kadang menunggak hingga beberapa bulan lamanya.
Sumber dana ketiga dan yang tak kalah pentingnya adalah dari sang pacar. Pacar Tio bernama Sissy dan sebagai informasi, Sissy ini memiliki paras yang mirip dengan Mikha Tambayong. Entah pelet apa yang dipakai Tio untuk medapatkan cewek secantik dan setahan itu menghadapi Tio yang borosnya minta ampun, namun Sissy ini sangat sayang dan perhatian kepadanya. Terbukti selama hampir 2 tahun, Sissy selalu menjadi ATM berjalan Tio untuk urusan makanan.
***
Ponsel Tio berbunyi. Dia membongkar-bongkar bantalnya, berusaha menemukan sumber suara yang ternyata ada di balik bantal yang dia tiduri tadi.
“Halo?” sahut Tio menjawab telepon dari orang yang tidak dia kenal nomornya itu.
“Halo, Ini Tio kan?”
“Iya. Siapa ya?”
“Fiko. Akuntansi 2010.” Jawab pria yang ada diseberang telepon sana memperjelas siapa dirinya.
“Oh, Fiko. Fiko gendut ya?”
“Iya” jawab Fiko sedikit gondok.
“Sudah lama ya kita nggak ketemu. Gimana kabarmu sekarang.”
“Baik. Tangan sama kaki masih utuh”
“Hahahaha” balas Fiko dengan tawa yang agak dipaksakan. “Kalau Action Figure gimana? Masih utuh juga?”
“Masih, malah tambah banyak kayaknya”
“Ngomong-ngomong kamu kenapa nelpon? Ada perlu apa ya?” lanjut Tio.
“Oh, gini sob, aku dengar kamu masih sama sissy.”
“Ya, terus?” balas Tio bingung.
 “Boleh pinjam Sissy nggak buat diajak ke acara nikahan besok?”
Tio menjauhkan ponsel dari telinganya. Dahinya sedikit mengerut dan alisnya naik sambil menatap layar ponsel.
‘Ini anak maunya apa sih?’ gumam Tio dalam hati.
“Halo? Tio?”
“Sori,  gimana tadi” Tio membalas dengan nada bingung.
“Jadi gini saya mau pinjam Sissy buat temani saya ke acara nikahan keluarga besok” Fiko memperjelas alasnnya. “sehari aja. Oke bro?”
“Tapi kenapa harus Sissy sih?” tanya Tio tak mau pacarnya jatuh ke makhluk yang ada di ujung telepon sana.
“Kemarin kan saya lihat-lihat foto Facebook Sissy. Sepupu saya datang dan bertanya itu foto siapa. Refleks aja aku bilang itu foto pacarku dan dia nantangin supaya saya bawa Sissy ke acara pernikahan kakaknya besok.”
Tio terdiam bingung. Mukanya random. Dalam hati dia gondok ‘itu urusan lo, gendut! Lagian kenapa juga si gendut ini lihat-lihat foto Sissy di Facebook ,sih? Jangan-jangan dia malah punya banyak foto Sissy di ponselnya.’
“Oi, bro! Gimana?” sahut Fiko setengah teriak. Menyadarkan Tio dari pikiran gondoknya.
“gimana apanya?” jawab Tio dengan sedikit emosi.
“atau gini deh, gimana kalo aku sewa dia sehari”
Tio bergumam lagi ‘ini anak kebanyakan makan mecin barangkali’.
“sejuta untuk sehari, gimana?”
Tio tersadar. Otaknya mengambil alih hatinya. Dia tahu betul bahwa Tio adalah anak orang kaya. Yang seperti ini bagaikan beli permen sugus baginya.
“Dua Juta deh, gimana?”
Tawaran Fiko semakin naik. Tio meletakkan ponsel di dadanya. Otak Tio semakin mengambil alih. Matanya melirik Action Figure Kura-kura Ninjanya yang masih kekurangan karakter Raphael. Tio refleks menaruh ponsel di telinganya.
“Oke deh.” sahut Tio dengan mantap.
“Nah, sip. Besok kita ketemu di kafe Gardo dekat kos mu saja jam 10 pagi. Nanti aku jemput Sissy di sana sekalian. SMS juga nomor rekening mu dan langsung aku kirim uangnya.”
Seakan terhipnotis, Tio mengirim nomor rekeningnya ke Fiko. Beberapa saat kemudian Fiko membalas kalau uangnya sudah masuk. Tio meluncur dengan semangat juang kemerdekaan menuju ATM dan menemukan saldo rekeningnya sudah bertambah dua juta. Tio merasa riang gembira. Dia tidak sadar kalau dia sudah menjual jiwanya kepada setan.
***
Keesokan harinya, jam setengah sepuluh pagi Tio dan Sissy duduk di kafe Gardo. Kafe yang tidak jauh dari tempat kos Tio dan juga akan tempat transaksi haram Tio dengan Fiko.
“Tumben kamu ajak aku kemari, mau minta di traktir lagi?” tanya Sissy membuka percakapan pagi itu.
“Ah, nggak. Justru aku yang mau traktir kamu. Pesan saja yg kamu suka”
Beberapa menit kemudian, Fiko muncul. Dia menganggukkan kepala sambil tersenyum, memberi kode kepada Tio, namun hanya dibalas dengan muka datarnya. Fiko duduk di dekat pintu dan terus menatap kedua pasang kekasih itu, terutama Sissy.
“kita kemari sebenarnya mau bikin apa sih?” Sissy kembali bertanya. Tio dan Sissy selama mereka berpacaran, mereka tidak pernah datang ke tempat seperti ini.
Tio berpikir inilah saatnya untuk mengatakan yang sejujurnya.
“Jadi begini...” Tio menghentikan kalimatnya.
Tio terdiam. Dia menatap mata wajah pacarnya yang mirip Mikha Tambayong itu. Entah mengapa pikiran setannya kemarin tiba-tiba berganti dengan perasaan sayangnya pada Sissy. Dia sangat tahu bahwa Sissy sangat sayang padanya. Sangat jarang ada perempuan yang akan tahan dengan perilaku boros dan urakannya, namun dia bisa bertahan selama dua tahun lebih dan Tio tak ingin merusak itu. Ditambah lagi bayangan bahwa sangat memungkinkan dia ditampar di muka umum kalau dia mengatakan soal perjanjiannya dengan Fiko kemarin kepada Sissy. Tio pun mengurungkan niatnya.
Tiba-tiba Tio beranjak dari kursi. Dia berjalan meninggalkan Sissy menuju meja tempat Fiko menyesap kopi panas. Tio mengambil dompet dari saku  dan mengeluarkan uang senilai dua juta rupiah yang dia taruh tepat di samping cangkir kopi Fiko. Fiko menatap bengong ke arah Tio yang berdiri tepat di sampingnya.
“Bisnis kita batal!”
Fiko masih bengong menatap Tio.
“Dan satu lagi bro” sahut Tio sambil sedikit menunduk. Dia memegang pundak Fiko sambil berbisik.
“Kurangi makan mi instan. Banyak mecinnya.”
Tio pergi meninggalkan Fiko yang tetap masih bengong.
“Eh, tadi itu Fiko gendut kan?” tanya Sissy saat Tio sampai dan kembali duduk berhadapan dengannya.
“Iya. Tadi dia minta kopian file film.”
“Oh, jadi tadi mau ngomongin apa?” tanya Sissy yang masih penasaran dengan kalima Tio yang terpotong tadi.
“Nggak jadi, pulang yuk.”
Sissy menerima jawaban aneh pacarnya itu dan berdiri dari kursinya.
“Eh, bisa minta tolong bayar nasi goreng sama jus jeruknya?” sahut Tio dengan perasaan tak bersalah dan di balas dengan muka datar dari sang pacar.
Tio hanya membalas dengan senyumannya.
***

Blog post ini dibuat dalam rangka mengikuti Kompetisi Menulis Cerpen “Pilih Mana: Cinta Atau Uang?” #KeputusanCerdas yang diselenggarakan oleh www.cekaja.com danNulisbuku.com