Minggu, 28 Desember 2014

MovieTalk - Pengalaman Kedua Kali




Beberapa waktu yang lalu, ketika lagi leye-leye tidak jelas di kantor (ya, saya sudah jadi orang kantoran sekarang :D. Makanya blog ini makin hari, makin “sederhana” saja isinya), saya membaca satu artikel yang sangat menarik di provoke-online.com. Artikelnya ditulis oleh Candra Aditya, seorang reviewer film. Artikelnya bisa anda baca disini..

Artikel itu membahas tentang pengalaman si penulis dalam menonton film yang sama setelah ditonton sebanyak dua kali. Di dalam artikel dia membandingkan pengalaman pertama dan pengalaman kedua setelah menonton film tersebut. Sangat menarik, dan saya pun tertarik untuk menulis artikel yang sama di blog ini.

Jadi, ini dia film yang memberikan saya pengalaman berbeda setelah menonton film yang sama untuk kedua kalinya..


The Dark Knight


Pengalaman menonton pertama kali:
Pertama kali saya menonton film ini pada tahun 2009 lewat sebuah DVD bajakan. Waktu itu saya masih kelas 2 SMA dan masih belum mengerti apa-apa tentang film. Saya membeli DVD itu karena cinta mati saya pada karakter komik Batman, dan setelah dikecewakan oleh film Batman Begins yang membuat saya mengernyitkan alis dan bilang “film apa ini??” setelah menontonnya di HBO, saya menaruh ekspektasi yang cukup tinggi pada The Dark Knight dan berharap bapak-bapak pembuat Batman Begins (yang belakangan menjadi orang yang paling saya kagumi film karyanya) menebus kesalahannya di film pertama.

Nyatanya, film The Dark Knight malah lebih absurd dari Batman Begins. Saya tidak paham dengan cerita filmnya yang berbelit-belit, karakter Joker yang sangat berbeda dari yang saya bayangkan, dan yang pasti membuat saya kecewa adalah kurang gregetnya aksi yang saya dapatkan di film The Dark Knight. Pada waktu itu, saya sudah merasa membuang waktu saya selama 2 jam dan membuang uang Rp. 8000 untuk sebuah karya yang saya anggap pada waktu itu gagal total.

Pengalaman menonton kedua kali:
Saya menonton The Dark Knight kedua kalinya pada tahun 2010, sekitar setahun setelah saya beli DVD bajaknnya. Saya lupa hari dan tanggal berapa saya menonton ulang fim The dark Knight itu, tapi yang jelas saya menonton film itu pas saat saya sedang makan siang sendirian di kamar. Saya yang tadinya mau makan dengan khusyuk sambil nonton, berbalik menjadi serius untuk menatap layar televisi. Entah karena sudah mulai dewasa (saat itu saya sudah lulus SMA) atau karena sudah terbiasa karena keseringan nonton film di HBO kalau pulang sekolah, yang jelas saya jadi paham betul isi film dari The Dark Knight.

Film The Dark Knight adalah film Batman paling sempurna yang saya nonton, setidaknya dari segi cerita. Perlu saya akui untuk menonton filmnya kita harus sedikit memutar otak, namun ketika anda mengerti ceritanya, anda akan terbawa dan membuat durasinya yang 2 jam itu terasa sangat sedikit. Selain segi cerita, karakter yang dibangun sang kreator, Christopher Nolan, memang sangat kuat. Terutama untuk karakter The Joker.

Dulu saya menganggap The Joker adalah karakter penjahat konyol yang tidak bisa apa-apa selain menembak dan berbuat jahat. Asumsi saya ini mungkin karena referensi mengenai Joker hanya saya dapat melalui kartun dan film Batman nya Michael Keaton tahun 1989. Namun setelah menonton The Dark Knight, saya jadi paham betul kenapa selama ini Batman selalu kesulitan untuk menghadapi seseorang yang bernama Joker. The Joker adalah sosok yang membuat saya mengerti apa arti dari psikopat. Nekat dan tanpa aturan namun punya rencana yang sangat sempurna. Jika anda penggemar Sherlock Holmes dan menganggap bahwa Professor James Moriarty adalah lawan terberatnya, tunggu sampai Holmes bertemu dengan The Joker.


Terlepas dari saya memang penggemar Batman, The Dark Knight akan selalu menjadi film nomor satu dalam daftar film-film favorit saya. Mungkin inilah salah satu film (selain Reservation Road dan Street Kings yang akan saya bahas selanjutnya) yang telah mengubah secara drastis cara pandang saya dalam menonton film. Selain itu, orang yang tadinya saya anggap sebagai pengahancur film Batman, yaitu Christopher Nolan menjadi salah satu orang yang paling saya kagumi karyanya. Saya sudah hampir menonton semua karyanya, selain Insomnia dan Following, dan tak ada satupun dari filmnya yang membuat saya kecewa, bahkan untuk Batman Begins yang awalnya membuat saya kecewa. Yang terakhir kemarin adalah Interstellar yang betul-betul epic dan membuat saya tidak merasa rugi membuang uang 35.000 rupiah dan waktu saya selama hampir tiga jama dalam bioskop.


Street Kings


Pengalaman menonton pertama kali:
Sama dengan The Dark Knight, film ini saya tonton pada tahun 2009 lewat sebuah DVD bajakan yang kebetulan juga saya beli bersamaan dengan DVD bajakan The Dark Knight tadi. Saya tertarik nonton karena filmnya memang film action dan saya pada waktu itu memang sangat suka film tembak-tembakan ala Steven Seagel. 


Pengalaman pertama menonton film Street Kings yang jelas membuat saya terpuaskan. Meskipun tidak begitu paham dengan jalan ceritanya yang lumayan njelimet seperti The Dark Knight, adegan tembak-tembakan difilmnya setidaknya bisa membuat saya terhibur dan merasa telah menjadi laki-laki sejati. Yeaaahhh...!!!

Pengalaman menonton kedua kali:
Pengalaman kedua menonton film Street Kings saya dapatkan ketika saya tidak bisa tidur setelah menyelesaikan tugas kuliah pada tahun 2012. Waktu itu filmnya ditayangkan di RCTI sekitar pukul 2 malam. Dari pengalaman menonton kedua kalinya itu saya jadi paham betapa film ini lebih dari sekedar film action. Street kings merupakan sebuah film drama yang dibalut dengan action yang sangat apik. Keresahan David Ayer, sang sutradara, mengenai korupsi dalam tubuh kepolisian LAPD  sangat terasa dalam film sehingga film ini memiliki value lain dari sekedar adegan tembak-tembakan. Setelah searching di google mengenai David Ayer, saya pun tahu kalau dia menjadi penulis naskah dari film Training Day, film yang membuat Denzel Washington meraih Oscar sebagai aktor terbaik.

 
Meskipun film ini mendapat kritik kurang memuaskan di beberapa situs review film seperti IMDB dan Rotten Tomattoes karena hampir menjiplak 70 persen plot cerita dari Training Day (yang baru saya tonotn beberapa hari yang lalu), namun film Street Kings telah mengubah cara pandang saya dalam menonton film action dan menobatkan David Ayer sebagai sutradara film action favorit saya.
Makanya ketika kemarin tidak sempat menonton Fury di bioskop, saya menjadi sangat kecewa. Meskipun begitu, saya rasanya sangat tidak sabar untuk menonton film Suicide Squad buatannya pada tahun 2016 nanti. Setidaknya saya ingin membandingkan The Joker buatan David Ayer dengan The Joker buatan Christopher Nolan.

Itulah tadi film-film yang memberikan saya pengalaman berebeda setelah menonton kedua kalinya. Bagaimana dengan anda?? adakah film yang memberikan anda pengalaman yang berbeda setelah menonton film tersebut untuk kedua kalinya??

My Tweet #4

kita terlalu lama memikirkan dunia, sampai lupa kepada pencipta kita. jadi marilah memohon ampun padaNya. let's PRAY my friend :)

posting 21 November 2010 di Twitter

My Tweet #3

magic isn't way to prove you better than anybody, but magic is way to make and bring a little miracle for someone

posting 12 November 2010 di Twitter

My Facebook Post #6

bagaimana bisa orang yakin pada anda sedangkan anda sendiri tidak yakin pada diri anda? jadi, yakinlah pada diri anda agar orang lain juga yakin pada anda :)

posting 21 November 2010 di Facebook

My Facebook Post #5

mengharapkan suatu hal yg tak mungkin sudah biasa bagi saya. jadi hadapi saja dengan senyuman :)

posting 16 November 2010 di Facebook

My Facebook Post #4

"you can overcome anything when your mind is more powerful than your emotions" criss angel

Posting 16 November 2010 di Facebook

Kamis, 25 Desember 2014

My Tweet #2

don't only see your future, but you must touch and make it happen

posting 27 Oktober 2010 di Twitter

My Tweet #1

magic adalah seni yang menunjukkan adanya keajaiban, bukan untuk menunjukkan bahwa anda lebih hebat dari orang lain

posting 8 Oktober 2010 di Twitter

My Facebook Post #3

kita di berikan oleh Allah ketampanan 1% itupun dibagi lagi kepada laki-aki lainnya di muka bumi. jadi, jangan takut Afgan masih sama tampannya dengan anda

posting 30 September 2010 di Facebook

My Facebook Post #2

Magician isn't like a clown, we are people who created and bring you some miracle. So, lets spread the magic

Posting 19 September 2010 di Facebook

My Facebook Post #1

Kata orang cantik itu kalo kulitnya bening. Kalo bening kan transparan, cara menilai cantiknya bagaimana? Orang kulitnya transparan..., jadi bingung...!!

posting 18 September 2010 di Facebook

Kamis, 07 Agustus 2014

#BedahMentalism – How to Make Unpredictible Prediction




Selamat datang di #BedahMentalism. #BedahMentalism adalah suatu rubrik yang saya buat khusus untuk membahas mengenai trik, tips, gimmick, teori, info, berita, dan sebagainya yang berkaitan dengan mentalism. Rubrik ini akan rutin muncul di Bisamagic dan di blog saya

Disclaimer: artikel ini pernah dimuat oleh blog wikumagic. Artikel ini kembali diterbitkan dengan memberikan sedikit perubahan

Jika kita membahas tentang mentalism maka yang muncul dipikiran kita pertama kali adalah prediksi. Dalam mentalism prediksi ialah suatu yang boleh saya katakan wajib. Prediksi juga memiliki beragam cara untuk mempersiapkannya, ada yang persiapannya sangat mudah dan ada juga persiapannya terbilang rumit.

Namun terkadang suatu prediksi tidak berhasil membuat sukarelawan maupun penonton terkejut. Disini saya akan memberikan beberapa tips yang saya ambil berdasarkan pengalaman saya saat bermain mentalism untuk anda agar prediksi anda terlihat mengejutkan.

Bubuhi tanda tangan sukarelawan diprediksi anda
Yang paling pertama adalah bubuhi tanda tangan sukarelawan di prediksi anda. Hal ini sangat penting karena dengan adanya tanda tangan sukarelawan di prediksi anda maka dapat memberi kesan bahwa hanya itulah satu-satunya prediksi anda tidak ada yang lain dan prediksi itu tidak dapat diganti-ganti lagi.
Selama ini saya sangat sering melakukan hal ini karena kesan yang nanti diberikan kepada penonton sangat mengejutkan, sampai-sampai biasa membuat sukarelawan berkata “bagaimana bisa?”

Prediksi yang salah
Maksudnya disini adalah prediksi yang kita buat ada dua, yang pertama adalah prediksi yang sengaja kita buat salah dan prediksi yang kedua adalah prediksi yang tepat.  Perlu diperhatikan bahwa jangan taruh kedua prediksi tersebut pada medium yang sama. Misalkan, prediksi pertama anda taruh di secarik kertas, maka prediksi kedua letakkan di tempat yang tidak terduga oleh sukarelwan seperti di kotak kartu atau di pulpen yang sukarelawan pakai pada saat menandatangani prediksi.
Mungkin awalnya anda akan diejek, namun disitulah letak inti penting yang dapat membuat sukarelawan terkejut. Ketika sang sukarelawan merasa bahwa dia telah “menang” karena anda telah gagal membuat prediksi, ternyata anda memiliki prediksi lain yang tidak disadari sebulumnya oleh sukarelawan atau penonton. Pengalaman saya saat mepraktekkan hal ini, sangat menakjubkan. Ini juga bisa digunakan untuk mengatasi hackler.

Berikan efek yang tidak masuk akal
Yang ini termasuk kedalam prediksi yang persiapannya terbilang rumit namun diantara semua prediksi inilah prediksi yang memiliki efek paling mengejutkan bagi sukarelawan. Contohnya seperti Stigmata. Stigmata adalah suatu efek dalam sulap dimana bagian tubuh anda muncul semacam tato secara tiba-tiba dan seakan-akan tato tersebut adalah akibat dari perbuatan makhluk halus. Tipe prediksi seperti ini sangat luar biasa efeknya, apalagi bila memang persona ataupun tema sulap anda memang agak seram.
Bentuk pengembangan dari Stigmata yang bisa anda coba dengan menggunakan teknik Tagged yang sering dipergakan oleh mentalist terkenal dari Ellusionist.com, Rich Ferguson yang videonya bisa anda lihat dibawah ini



Jadi intinya adalah buatlah prediksi anda sebaik mungkin sehingga dapat membuat sukarelawan anda terkejut ketika melihat prediksi anda. Tips-tips yang saya berikan diatas merupakan sebagian kecil dari banyak cara lagi, maka dari itu bereksperimenlah dan buatlah suatu cara membuat prediksi yang mengejutkan versi anda sendiri. 

Selamat berlatih dan selamat mecoba.

#opini Stand Up Comedy



Saya selalu suka komedi
Mulai dari sitkom, slapstick, parodi, dan yang terbaru adalah stand up comedy

Sebelum stand up comedy betul-betul booming di Indonesia, sebenarnya saya selalu sering menonton acara seperti itu di TV karena kebetulan dulu di rumah saya ada TV kabel yang menyiarkan acara-acara komedi. Meskipun begitu, nanti tahun 2012 saya baru tahu kalau jenis komedi tunggal ini disebut stand up comedy.

Dulu sebenarnya saya adalah salah satu orang yang pesimis kalau stand up comedy bisa jaya di Indonesia. Alasannya sederhana, karena materi yang ada dalam pertunjukan stand up comedy biasanya susah diterima oleh kebanyakan orang Indonesia. Materi stand up comedy biasanya selalu seputar current isseu yang terjadi di tengah masyarakat dan tipe komedi yang mengangkat tema seperti ini sudah lama ditinggalkan komedian kita.

Namun apa yang terjadi ternyata tidak seperti itu. Setelah saya melihat stand up comedy, terutama yang dibawakn oleh Pandji Praagiwaksono dan Raditya Dika, saya langsug berbalik 360 derajat mendukung bahwa komedi ini akan booming.

Gaya pembawaan stand up comedy kita memilki ciri khas tersendiri. Ciri khas ini mengingatkan saya pada pertunjukan MOP papua. Pertunjukan MOP papua sangat lucu dan membuat kita jungkir balik tertawa, bukan hanya karena cara pembawaannya namun juga isi lawakannya. Silahkan cek sendiri di Youtube. Mungkin ini juga alasan komedian seperti Arie Kriting dan Abdur sangat bagus saat di atas panggung.

Ketertarikan saya pada stand up comedy ini kemudian menjadi suatu keinginan bagi saya untuk menjadi seorang komika (sebutan untuk komedian yang mempertunjukkan stand up comedy), apalagi waktu itu di daerah saya sudah dibentuk komunitasnya sendiri. Saya pun kemudian jadi sangat antusias waktu itu.

Namun niat tersebut kemudian saya urungkan karena adanya beberapa alasan.

Yang pertama, saya ini orangnya kurang cerdas. Banyak orang yang bilang bahwaa seorang komika haruslah orang yang cerdas. Entah dengan orang lain, namun bagi saya seseorang bisa dikatakan cerdas ketika dia bisa cepat untuk berpikir. Dalam konteks komedi, berarti orang tersebut harus berpikir cepat untuk bisa menghasilkan sesuatu yang lucu. Orang yang cerdas memiliki kemampuan berimprovisasi untuk menemukan kelucuan dalam waktu singkat dan hal inilah yang tidak bisa saya lakukan.

Berpikir saya lemot.

Jangankan untuk komedi, dalam kehidupan sehari-hari pun saya selalu lamban untuk berpikir. Makanya dulu saya sering kena marah sama guru saya waktu sekolah..hahahaha..

Hal kedua yang membuat saya mengurungkan niat untuk menjadi komika adalah karena saya kurang rapih dalam menulis. Dalam sebuah komedi atau secara khusus stand up comedy, penulisan materi sama dengan penulisan skenario cerita.  Bit harus disusun secara sistematis mulai dari yang memiliki gelak tawa yang sedikit hingga yang paling banyak pada bagian akhir. Ini mungkin terdengar mudah tapi jika anda mau mencobanya hal ini akan menjadi sangat sulit, terutama ketika writers block muncul yang memancing kita menjadi semakin malas. Sampai saat ini saya masih terus berlatih untuk menulis serapi mungkin, maka dari itu saya menganggap diri saya belum layak untuk mejadi komika ataupun performer panggung.

Hal ketiga ialah saya orangnya kurang lucu.
Menurut saya seorang komedian dikatakan lucu ketika bit yang dilemparkannya memiliki 2 arah, yaitu dapat membuat tertawa dirinya sendiri maupun penonton sebagai penikmat dari bit yang dilemparkannya.

Saya pernah mencoba untuk berkomedi ke beberapa kerabat saya tentang grup band kotak yang seharusnya mengganti nama karena kehilangan satu personilnya. Ternyata bit komedi yang saya lemparkan ke mereka hanya itu bersifat 1 arah, saya tidak tahu alasannya tapi menurt saya mereka tidak mengikuti berita musik sehingga tidak menangkap apa yang saya sampaikan dengan baik. Akhirnya, bit komedi yang saya lemparkan ke mereka jadi garing karena mereka menggapnya tidak lucu.

Hal keempat yang membuat saya semakin tidak pantas untukk menjadi komika adalah karena saya ini orangnya bantam atau banci tampil. Saya selalu demam panggung.

Selalu

Saya ini adalah seorang Mentalis, meskipun masih dalam taraf amatir. Dan sampai sekarang ini saya baru naik panggung sebanyak 3 kali, itupun juga karena dipaksa sama teman.
Begitu pun dengan bermusik. Banyak teman saya yang bilang bahwa suara saya ini lumayan bagus, namun saya betul-betul menyanyi di atas panggung baru satu kali dan itupun, lagi-lagi, karena terpaksa.

Kata orang, demam panggung akah hilang jika dibiasakan. Tapi bagi saya itu mungkin tidak akan pernah berlaku. Ada sesuatu dalam diri saya yang membuat saya tidak bersenyawa dengan tempat yang namanya panggung atau apapun jenisnya. Saya lebih suka mempertunjukkan apa yang saya bisa ketika saya nongkrong dengan kerabat ataupun teman saya. Bukan di tempat yang formal seperti panggung.

Dengan apa yang saya ceritakan tadi bisa dibayangkan. Dari 2 hal yaang saya bisa lakukan dengan baik pun saya masih belum berani untuk tampil, bagaimana dengan stand up comedy yang jelas-jelas saya belum sepenuhnya bisa?

Maka dari itu saya pribadi menyimpulkan tidak bisa menjadi komika, setidaknya dalam waktu dekat ini karena saya menganggap saya masih butuh waktu untuk berlatih.

Nah, karena tidak bisa menjadi komika, maka jadilah saya hanya sebagai penonton atau penikmat stand up comedy. Dan sebagai penikmat dan penonton yang budiman, tentunya saya punya kritik tersendiri terhadap stand up comedy, khusunya yang ada di Indonesia.
Boleh kan??

Sebelumnya saya ingin menjelaskan dulu stand up comedy dari prespektif saya pribadi.

Pada dasarnya stand up comedy memiliki sub genre yang sangat besar yaitu observastional comedy.

Komedian yang bersifat Observational mengambil materi komedinya dari hasil pengamatan kehidupan sehari-hari yang menjadi keresahannya lalu dari hasil pengamatan tersebut dibuat punchline yang cendurung bergaya sarkastik, satir, hiperbolik, dan sebagainya. Contoh komedian seperti ini adalah Jerry Seinfield, yang menurut sebagian orang adalah bapaknya Observational Comedy. Untuk komika Indonesia, Pandji Pragiwaksono dan yang paling baru yaitu Abdur dan David adalah contoh  komika dengan materi Observational.

Saya melihat dari kacamata seorang penikmat, terkadang keresahan yang ingin disampaikan menjadi punchline dalam komedi observational oleh para komika kita selalu cuma ikut-ikutan. Ketika komika ini membahas mengenai keresahannya mengenai kejombloan, dia ikut bikin materi tentang jomblo. Ketika komika yang itu membuat materi karena resah akan politik di Indonesia, dia juga ikut. Hal ini sebenarnya tidak menjadi masalah. Namun, seharusnya jika memilki keresahan yang sama dengan orang lain setidaknya kita memiliki point of view yang berbeda dengan orang lain itu.

Misalnya saya dan teman saya punya keresahan yang sama mengenai cuaca kota Makassar yang sangat panas, namun saya memeliki keresahan bahwa saya tidur siang saya terganggu karena cuaca panas itu, sedangkan keresahan dia adalah karena dia takut tambah hitam gara-gara cuaca panas itu. Kira-kira seperti itu yang saya maksud.

Sampai disini dulu tulisan opini, curhat, cuap-cuap, dan koar-koar saya soal stand up comedy

Ciao..!!!!

Minggu, 27 Juli 2014

#BedahMentalism - Apa itu Mentalism?



Selamat datang di #BedahMentalism. #BedahMentalism adalah suatu sesi yang saya buat khusus untuk membahas mengenai trik, tips, gimmick, teori, info, berita, dan sebagainya yang berkaitan dengan Mentalism. Sesi ini akan ada di bisamagic.com dan blog saya

Pada artikel pertama ini, saya ingin membuka dengan sebuah pertanyaan sederhana “Apa itu Mentalism?”

Pertanyaan yang saya tulis di atas merupakan pertanyaan yang menggantung di pikiran saya ketika pertama kali ingin belajar mengenai sulap khususnya Mentalism sekitar 4 tahun lalu. Pertanyaan itu mungkin akan terdengar mudah bagi anda, tapi ketika anda menggalinya lebih dalam anda akan merasa kebingungan. Hal ini dikarenakan banyak praktisi mentalist yang tak mau dirinya disebut sebagai pesulap dengan alasan bahwa mentalist dan sulap merupakan seni yang bebeda. Perbedaan pandangan beberapa mentalist inilah yang membuat sebagian besar orang, termasuk saya kesulitan untuk menjawab pertanyaan “Apa itu Mentalism?”

Jika kita merujuk pada artikel yang ada di situs wikipedia, anda akan mendapatkan dua pengertian besar mengenai Mentalism. Yaitu Mentalism sebagai sebuah pertunjukan dan Mentalism sebagai sebuah ilmu psikologi. Mentalism sebagai sebuah pertunjukan ialah suatu seni pertunjukkan yang menampilkan fenomena-fenomena mental manusia seperti indra keenam, clairvoyant (melihat tembus pandang), mengontrol pikiran, membaca pikiran, dan sebagainya yang berhubungan dengan fenomena-fenomena alam pikiran manusia. Sedangkan menurut pengertian berdasarkan Psikologi, mentalism merupakan sebuah ilmu yang mempelajari tentang bagaimana keadaan mental atau pikiran seseorang dapat mempengaruhi apa yang dia lakukan.

Richard Osterlind dan Banachek dalam DVD mereka secara gamblang memisahkan antara Mentalism yang berdasarkan fenomena pikiran dan yang menggunakan trik sulap, atau yang biasa mereka sebut Mental Magic. Lain halnya dengan Derren Brown dan Rich Ferguson. Mereka berdua pernah mengatakan bahwa Magic dan Mentalism itu pada dasarnya sama. Hanya saja, Mentalism adalah sulap/magic yang memiliki tingkatan yang lebih tinggi dari sulap pada umumnya.

Jadi kesimpulan yang bisa diambil, mentalism ialah sebuah pertunjukan dimana kita menggunakan teknik-teknik psikologi, pengalih perhatian (misdirection) dan trik sulap untuk menciptakan suatu pertunjukan yang menampilkan fenomena-fenomena mental yang sangat luar biasa.

Lalu bagaimana dengan pernyataan yang mengatakan bahwa Mentalism itu beda dengan Sulap/Magic?? Menurut saya, meskipun kedua seni pertunjukan ini berbeda, namun kedua seni tersebut saling melengkapi. Sama halnya dengan card flourish (seni permainan kartu) dengan card magic, keduanya adalah seni yang berbeda namun saling berhubungan.

Inilah arti dari mentalism berdasarkan pendapat saya.
Bagaimana dengan anda? menurut anda apakah mentalism itu?